Finex
MT Haryono Street No.Kav. 2-3, RT.1 RW.6 12810 Jakarta, ID
021-50101569, 021-50101046
>Sudah Sampaikah Emas di Level Bawahnya ?

Sudah Sampaikah Emas di Level Bawahnya ?

01/04/2020, 06:45

Harga emas dunia melemah cukup tajam di hari terakhir perdagangan bulan Maret, tepatnya perdagangan kemarin. Sepanjang bulan ini, harga emas bergerak seperti roller coaster, naik-turun tajam dalam tempo singkat. Senin 9 Maret lalu, harga emas sempat melesat hingga menyentuh $ 1.702,56 per troy ons yang merupakan level tertinggi sejak Desember 2012. Namun selepas itu, emas justru terus merosot bahkan sempat menyentuh level $ 1.450,98 per troy ons pada Senin 16 Maret lalu. 

Posisi tersebut sedikit membaik, di perdagangan Jumat 20 Maret emas berada di level $ 1.497,64 per troy ons. Sepanjang pekan lalu, logam mulia ini kembali melesat 8% di $ 1.617,5 per troy ons. Penguatan emas masih berlanjut Senin kemarin meski tidak terlalu besar, 0,27%.

Pada pagi hari ini, hingga pukul 06:29 WIB, emas menguat tipis 0,06% ke $ 1.578 per troy ons di pasar spot, melansir data Bloomberg. Namun jika dihitung dari level tertinggi 12 tahunnya, posisi harga emas saat ini masih ambles lebih dari 12%.

Pandemi virus corona (COVID-19), serta respon negara-negara yang terpapar dengan menggelontorkan stimulus moneter dan fiskal menjadi pemicu pergerakan emas tersebut. 

Melihat volatilitas tinggi yang terjadi pada emas belakangan ini, ahli strategi komoditas di Scotiabank, Nicky Shiels, mengatakan harga emas sudah mencapai level bawah (bottom) dan berpeluang mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. "Emas sudah menemukan level bottom di $ 1.450 per troy ons, dan sudah terjadi lebih awal karena respon kebijakan yang cepat dan besar dari yang pasar bisa antisipasi," kata Shiels sebagaimana dilansir Kitco.com.

Bank sentral dan negara-negara yang terdampak COVID-19 memang menggelontorkan stimulus yang besar melalui kebijakan moneter dan fiskal. Yang paling sensasional tentunya Negara Adikuasa, Amerika Serikat (AS).

Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) membabat habis suku bunganya hingga menjadi 0-0,25%, kemudian menerapkan QE dengan nilai tanpa batas. Berapapun akan digelontorkan agar likuiditas di perekonomian AS tidak mengetat.

Kemudian, Pemerintah AS juga menggelontorkan stimulus fiskal dengan nilai jumbo. Jumat waktu AS, Presiden AS sudah menandatangani undang-undang stimulus senilai US$ 2 triliun. Angka tersebut dua kali lipat dari nilai perekonomian Indonesia.

"Emas [kemungkinan] memulai laju bullish yang lebih panjang dari 2008-2013" kata Shiels. Ia juga menjelaskan, emas akan diperdagangkan di kisaran $ 1.700 per troy ons, dan melihat "badai sempurna" dari perspektif makro ekonomi yang akan membawa emas melewati rekor tertinggi sepanjang masa $ 1.920 per troy ons (pada September 2011).

Tidak hanya Scotiabank yang memprediksi emas akan mencapai rekor tertinggi. Kepala strategi global di TD Securities, Bart Melek, memprediksi emas akan ke $ 1.800 per troy ons dalam waktu dekat, bahkan tidak menutup kemungkinan ke $ 2.000 per troy ons akibat kebijakan moneter dan fiskal di AS.

"Normalisasi kondisi likuiditas, suku bunga riil negatif, dan biaya investasi yang rendah serta kekhawatiran akan depresiasi mata uang, situasinya mirip dengan periode setelah krisis finansial global (2008), yang berarti harga emas dapat menguat menuju $ 1.800 per troy ons dalam waktu dekat," tulis Melek sebagaimana dikutip Kitco.com.

Melek menambahkan penguatan menuju $ 2.000 per troy ons adalah kemungkinan lain sebelum memasuki tahun 2021, jika kondisi ekonomi global mulai normal, kebijakan moneter masih longgar serta defisit fiskal melonjak.

Jika tahun ini emas berpeluang ke $ 2.000 per troy ons, dalam tiga tahun ke depan logam mulia ini diprediksi ke $ 3.000 per troy ons, menurutWingCapital. Lembaga tersebut melihat stimulus fiskal pemerintah AS dapat menaikkan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) dan membawa emas ke level tersebut.

"Secara historis kami melihat rasio utang terhadap PDB memiliki korelasi yang lebih besar dibandingkan dengan balance sheet [neraca] The Fed [terhadap harga emas]," tulis analis WingCapital yang dikutip Kitco.com.

Untuk saat ini, belanja masif pemerintah AS guna memerangi COVID-19 diprediksi akan membengkakkan defisit anggaran, hingga rasio utang terhadap PDB akan menyamai ketika perang dunia II ketika naik sebesar 30% tahun ini. Sementara itu, beberapa analis lainnya melihat rasio tersebut akan naik sekitar 10% sampai 14%.

Untuk diketahui, rasio utang terhadap PDB AS pada tahun 2019 mencapai 108,28% dari PDB, berdasarkan data CEIC.


bell

Berlangganan notifikasi

Teruslah terupdate dengan segala perubahan pasar, dapatkan beragam berita dan sinyal trading