Finex
MT Haryono Street No.Kav. 2-3, RT.1 RW.6 12810 Jakarta, ID
021-50101569, 021-50101046
>Dollar Masih Dihantui Corona, Fokus Minggu Ini NFP

Dollar Masih Dihantui Corona, Fokus Minggu Ini NFP

03/02/2020, 09:00

Dollar melemah minggu lalu terhadap rivalitas mata uang utama dunia, karena kekhawatiran penyebaran virus corona China. Jumat lalu, dollar anjlok 0,49% atas yen menjadi 108.363 dan turun atas USDCHF sebesar 0,56% menjadi 0,96318. Virus corona telah menyebar ke hampir sekitar 10 ribu orang di dunia, dengan korban jiwa di China lebih dari 200 orang. Pasar khawatir bahwa China gagal menangani kasus tersebut, yang dapat menghambat pertumbuhan global.

Dollar semakin tertekan setelah Chicago PMI mengalami kontraksi 42,9 di Januari, bawah perkiraan kontraksi 48,9, merupakan fase terlambat sejak September 2015. Indeks dollar melemah 0,41% menjadi 97,25 Jumat lalu, turun 0,5% selama sepekan. Poundsterling reli minggu lalu setelah Inggris resmi keluar dari Uni Eropa. Sebelumnya, poundsterling sudah menguat setelah keputusan Bak of England (BoE) mempertahankan suku bunga. Dalam rapatnya, ketua BoE Mark Carney mengatakan bahwa pemangkasan suku bunga bisa berisiko terhadap kenaikan inflasi di atas target BoE. Selama sepekan GBPUSD menguat sekitar 1% dan di tutup pada kisaran 1.32040.

Harga emas menguat minggu lalu berkat meningkatnya permintaan safe haven menyusul penyebaran virus corona, yang meningkatkan kekhawatiran mengenai pertumbuhan ekonomi China  dan dampaknya pada ekonomi global. Jumat lalu, harga emas spot menguat 0,8% menjadi $1588,18. Sepanjang Januari harga emas sudah menguat sekitar 4%. Virus corona telah meningkatkan kekhawatiran di pasar keuangan, menutupi solidnya hasil earning perusahaan. WHO telah mendeklarasikan bahwa wabah virus tersebut saat ini menjadi darurat kesehatan internasional. Perlambatan ekonomi di China akan berpengaruh pada global.

Harga minyak menutup perdagangan di bulan Januari, dengan penurunan bulanan terburuk lebih dari tahun karena berkurangnya permintaan minyak dari China yang disebabkan oleh penyebaran virus corona. Hingga saat ini, virus tersebut sudah menelan korban lebih dari 200 orang dan lebih dari 10 ribu orang terinfeksi, serta menyebar ke lebih dari 15 negara. WHO telah mendeklarasikan wabah virus tersebut sebagai darurat kesehatan internasional. Beberapa analis melihat bahwa permintaan minyak akan terdampak oleh wabah virus tersebut.

Sanford C. Bernstein & Co mengatakan bahwa minyak bisa turun di bawah $50 per barel jika OPEC tidak intervensi. Lembaga tersebut telah memangkas perkiraan permintaan bensin sebesar 50 bph dan diesel 40 ribu bph. Morgan Stanley mengatakan bahwa jika dalam 3-4 bulan kedepan penyebaran virus berlanjut, permintaan minyak dari China akan terpangkas 75 ribu bph. Sepanjang Januari, minyak WTI turun 16%, terdalam sejak November 2018, dan minyak Brent sudah turun 14%.

Minggu ini, pergerakan dollar diperkirakan masih dihantui kecemasan atas wabah virus corono. Disamping itu, serangkaian data ekonomi penting yang dirilis minggu ini seperti rapat regular Bank Sentral Australia (RBA), data employment dan unemployment Australia, data ADP Employment AS dan Non Farm Payroll AS akan menjadi perhatian khusus bagi pelaku pasar mata uang.

bell

Berlangganan notifikasi

Teruslah terupdate dengan segala perubahan pasar, dapatkan beragam berita dan sinyal trading