>Kondisi Bursa AS

Kondisi Bursa AS

Mengenai kondisi bursa AS, sebelumnya saat Presiden AS Donald Trump memutuskan memotong besaran pajak, banyak pihak menilai penerimaan Negara akan menurun. Kemudian, muncul wacana China tidak akan membeli surat utang yang diterbitkan AS, sehingga pelaku pasar mengkhawatirkan belanja negeri Paman Sam itu akan menurun dan membuat inflasinya cenderung rendah.

Di sisi lain, keputusan Donald Trump yang mengurangi besaran pajak turut membuat biaya yang ditanggung korporasi menurun. Sentimen tersebut direspons pasar dengan kenaikan indeks Dow Jones yang cukup signifikan sebelumnya.

Hasil data ketenagakerjaan AS (non farm payroll) di atas dari perkiraan, yang menjadi penanda bahwa jumlah pengangguran menurun. Kemudian ditambah rilis data bahwa besaran nilai upah kerja di AS meningkat, sehingga pasar menjadi khawatir Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga (FFR) lebih cepat.

Kekhawatiran itu membuat investor melakukan aksi jual surat utang negara AS, sehingga imbal hasil (yield) dari United States treasury bertenor 10 tahun berada dalam level tertinggi sejak empat tahun terakhir, yakni 2,8%.

 Para investor juga memutuskan melakukan aksi profit taking di bursa saham AS, dan itulah yang terjadi minggu lalu.

Dan minggu ini investor akan kembali disuguhkan data inflasi AS jadwal rilis Rabu, dimana perkiraan adanya kenaikan 0,3% untuk Januari dari bulan sebelumnya 0,1%. Bila angka inflasi ini benar terilis makin menguatkan sinyalemen kenaikan FFR pada rapat regular berikutnya.

 

Kembali ke berita awal