Finex
MT Haryono Street No.Kav. 2-3, RT.1 RW.6 12810 Jakarta, ID
021-50101569, 021-50101046
>Fed Rate dan Minyak, Koreksikan Wall Street

Fed Rate dan Minyak, Koreksikan Wall Street

13/06/2019, 14:25

Indeks utama Wall Street ditutup melemah semalam, setelah saham-saham perbankan turun di tengah prospek penurunan suku bunga acuan Federal Reserve. Selain itu, saham-saham energi juga berguguran sejalan dengan merosotnya harga minyak dunia.

Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 43,68 poin atau 0,17% ke posisi 26.004,38, sedangkan indeks S&P 500 terkoreksi 5,88 poin atau 0,2% ke posisi 2.879,84, dan indeks teknologi Nasdaq Composite turun 29,85 poin atau 0,38% ke posisi 7.792,72.

Indeks energi S&P 500 terperosok 1,4% dan mencatatkan pelemahan terdalam di antara sektor-sektor saham lainnya. Kecemasan akan melemahnya permintaan membuat harga minyak mentah AS anjlok 4%.

Dengan demikian, sektor energi mencatatkan kinerja terburuk di S&P 500 sepanjang tahun ini, dilansir dari Reuters.

Di lain pihak, data Departemen Tenaga Kerja menunjukkan inflasi konsumen AS (CPI) naik 0,1% di Mei atau sesuai dengan ekspektasi pasar. Angka ini menunjukkan laju inflasi yang moderat dan dapat mendorong bank sentral Federal Reserve untuk menurunkan suku bunganya.

Saham-saham perbankan yang cenderung mendapat keuntungan ketika suku bunga tinggi anjlok 1,4% sementara sektor finansial secara umum harus rela turun 1%.

Para pembuat kebijakan The Fed akan bertemu pada 18-19 Juni mendatang. Pasar telah memperhitungkan (price in) setidaknya akan ada dua kali pemotongan suku bunga hingga akhir 2019. Futures Fed Funds menunjukkan adanya ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter secepatnya pada Juli.

Selain itu, pasar juga mencemaskan nasib perdamaian dagang AS-China. Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sebelumnya dilaporkan akan bertemu di G20 akhir bulan ini. Namun, kurang dari tiga pekan waktu yang tersisa, belum nampak adanya persiapan yang berarti.

Trump mengatakan kesepakatan masih bisa tercapai namun ia kembali mengancam dapat menaikkan bea impor terhadap China bila perjanjian itu gagal. (prm)

Dengan demikian, sektor energi mencatatkan kinerja terburuk di S&P 500 sepanjang tahun ini, dilansir dari Reuters.