>Wait and See, Emas Stabil

Wait and See, Emas Stabil

15/05/2019, 16:25

Wait and See, Emas Stabil

 

Ketidakpastian masa depan perang dagang AS – China membuat pergerakan logam mulia emas cenderung terbatas. Di satu sisi, masih ada harapan kesepakatan dagang tercipta. Namun di sisi lain, investor masih mewaspadai bilamana sampai perang dagang kembali tereskalasi.

 

Hingga perdagangan pagi ini, emas kontrak pengiriman Juni di bursa New York Commodity Exchange (Comex) terkoreksi 0,18% menjadi 1298.30 per ons. Sedangkan emas di pasar spot naik terbatas 0,02% ke level 1297.40 per ons. Setelah sempat memuncak pada hari Senin karena sentimen perang dagang, dan kini mulai surut kendati belum hilang sama sekali harapan damai perang dagang.

 

Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa dialog dengan China masih terus berlanjut. Dirinya juga telah mengumumkan rencana pertemuannya dengan Presiden China, Xi Jinping di sela-sela konferensi negara G-20 pada Juli mendatang.

 

Sebelumnya Trump mengatakan bahwa pihaknya akan membuat kesepakatan dengan China pada waktu yang tepat, dan itu bisa terjadi lebih cepat dari yang dibayangkan. Setidaknya ucapan Trump dapat membuat risk appetite investor agak naik.

 

Namun bila tidak berlangung sesuai harapan, bisa-bisa perang dagang bisa diperparah. Pasalnya Trump pernah berkata akan memberlakukan tarif baru sebesar 25% pada produk-produk China yang senilai $325 miliar. Sebelumnya produk-produk tersebut belum dikenakan bea masuk.

 

Sebagai informasi, Jumat lalu (10/05/2019), AS secara resmi telah meningkatkan bea masuk produk asal China yang senilai $200 miliar menjadi 25% dari yang semula 10%.

 

China membalasnya pada hari Senin (13/05/2019), mengumumkan kenaikan tarif produk AS senilai $60 miliar pada kisaran 5% - 25% yang akan mulai berlaku pada Juni nanti. Produk-produk utama sasaran China adalah produk pertanian.

 

Bila perang dagang tambah makin parah, maka sekali lagi rantai pasokan global akan mendapat hambatan. Perlambatan ekonomi dunia sulit untuk dihentikan, bahkan bisa makin diperlambat. Alhasil investor masih agak ragu-ragu untuk masuk ke instrumen berisiko seperti saham. Risiko koreksi nilai aset masih tinggi. Kondisi bila tidak disikapi dengan benar maka akan memberi kerugian besar.

 

Dalam kesemparan ini, emas masih punya tempat di kalangan pelaku pasar, mengingat sifatnya yang sebagai pelindung nilai (hedging). Maklum pergerakan nilai emas relatif stabil ketimbang instrumen berisiko lainnya.