Finex
MT Haryono Street No.Kav. 2-3, RT.1 RW.6 12810 Jakarta, ID
021-50101569, 021-50101046
>Corona, Bawa Kembali Ke Cerita 2008

Corona, Bawa Kembali Ke Cerita 2008

21/03/2020, 14:35

Indeks Dolar yang menanjak signifikan menjadi cermin kepanikan investor dan pemilik modal yang mengguncang pasar. EURUSD dan GBPUSD berisiko turun lebih rendah dalam jangka menengah.

Di sepanjang pekan, kita telah menyaksikan gejolak pasar yang luar biasa sejak krisis finansial global 2008, akibat wabah virus corona yang menginfeksi banyak negara di seluruh dunia. Indeks Dolar atau DXY yang mengukur kinerja Greenback versus sejumlah mata uang utama lainnya menanjak signifikan. Sebaliknya, pasangan mata uang EURUSD dan GBPUSD merosot sangat tajam.

Meski barangkali tidak terlalu mirip, karena latar belakang persoalannya berbeda, ini pernah terjadi pada pertengahan 2008. Ketika itu krisis dipicu oleh macetnya sistem keuangan AS akibat kegagalan di sektor kredit perumahan, yang kemudian berdampak sistemik melumpuhkan sistem keuangan dan perbankan Eropa.

Pada pertengahan 2008, DXY membutuhkan waktu sekitar 5 bulan dari Juli hingga November, untuk melompat dari level 71 ke level 88. Pada waktu yang bersamaan, EUR/USD merosot tajam dari 1.60 ke 1.23. GBPUSD pun bernasib sama, anjlok dari level 2.01 ke 1.45.

Selanjutnya pada tahun 2009, barulah terjadi perubahan siklus dalam jangka menengah. EURUSD mampu bangkit meski tak bisa menjangkau level 1.60. Hanya mentok di 1.50. Sementara GBP/USD juga tak bisa mengulangi kesuksesan sebelumnya dan hanya sanggup menjangkau 1.70.

Yang menarik adalah harga emas yang juga sempat terkena dampak krisis 2008 dari bulan Juli hingga November. Tapi setelah itu, mulai awal 2009 hingga September 2011, harga emas berbalik arah dan mendaki secara perlahan namun pasti. Hingga kemudian mencapai level puncak saat hampir menyentuh $2000 per troy ons.

Beberapa bank sentral terkemuka pun telah melakukan langkah kebijakan darurat yang sama seperti pada tahun 2008/2009, yakni memangkas suku bunga dan menggelontorkan stimulus dalam jumlah yang sekarang malah jauh lebih besar dari sebelumnya.

Apakah sejarah kembali berulang? Bisa jadi. Meski akar persoalannya berbeda. Yang terkini adalah karena virus mematikan. Sedangkan kejadian sebelumnya adalah akibat gagal bayar kredit perumahan AS yang berdampak sistemik memukul sektor keuangan global. Tapi respon pasar pada dasarnya sama. Sama-sama panik yang menyebabkan pasar terguncang secara brutal.

Kembali ke pertanyaan awal, apakah sejarah akan kembali berulang? Saya khawatir akan demikian. Lockdown sudah hampir pasti berdampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi global dalam jangka pendek. Jika COVID-19 berhasil ditekan atau diatasi, atau apabila vaksin corona telah diumumkan oleh lembaga resmi dan diproduksi secara massal, aktifitas kegiatan ekonomi masih akan membutuhkan waktu untuk memulihkan dirinya.

Lantas bagaimana dengan nasib pasangan mata uang EURUSD dan GBPUSD?
Dari sejumlah catatan atau tulisan para analis Barat yang saya baca dalam beberapa hari terakhir, sebagian di antaranya memiliki pendapat yang kurang lebih sama. Dua pair itu masih berisiko turun lebih rendah dalam jangka menengah hingga jangka panjang. EURUSD bahkan diperkirakan dapat menjangkau atau mendekati level paritas 1.0000. Sementara GBPUSD diprediksi turun ke level terendah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya dalam kurun waktu 35 tahun terakhir.

Ini dengan kondisi, yakni apabila vaksin corona belum bisa diumumkan secara resmi dalam waktu dekat oleh lembaga yang diakui secara internasional, misalnya WHO. Atau apabila kasus lockdown terus terjadi di Eropa dan AS hingga beberapa bulan mendatang. China dan Korea Selatan juga menjadi tolak ukur dan diawasi oleh pasar. Jika data-data atau kegiatan ekonomi dari dua negara itu mampu bangkit dalam beberapa bulan ke depan, maka tingkat stress pelaku pasar akan bisa berkurang.

Pertanyaan berikutnya, apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi kondisi yang sulit saat ini? Bagi saya pribadi, sebagai trader "receh", sudah pasti membatasi lot size untuk setiap posisi entri, karena harus disesuaikan dengan level Stop Loss (SL) yang terpaksa "diulur" menjadi lebih lebar dari biasanya. Dan kemudian, memantau price action atau candle pattern serta trading system secara lebih ketat, terutama pada saat pembukaan sesi Eropa dan sesi New York.

Langkah berikutnya, mungkin menjadi yang paling penting bagi saya, atau bagi kita semua, yakni berdoa pada Tuhan YME agar senantiasa dilindungi dan diberi kesehatan serta stamina yang baik untuk menghadapi ancaman wabah corona. Selain itu, mari kita bersama-sama mengikuti anjuran pemerintah dan terus mengikuti perkembangan yang terbaru terkait dampak yang ditimbulkannya.


bell

Berlangganan notifikasi

Teruslah terupdate dengan segala perubahan pasar, dapatkan beragam berita dan sinyal trading