Finex
MT Haryono Street No.Kav. 2-3, RT.1 RW.6 12810 Jakarta, ID
021-50101569, 021-50101046
>Saham Asia Terjerembab Kembali Di Awal Minggu Ini

Saham Asia Terjerembab Kembali Di Awal Minggu Ini

23/03/2020, 08:50

Awali perdagangan minggu ini, bursa saham Asia sebagian besar berada di zona merah seiring turunnya saham bursa Wall Street AS karena wabah global virus corona (COVID-19) terus menyebar dengan cepat di seluruh dunia.

Kontrak berjangka (futures) bursa saham AS, pada perdagangan pagi ini, melemah yang tampak dari Dow Jones industrial Average (DJIA) turun 5% di level 18.086, S&P 500 turun 4,75% di level 2.179,75, sedangkan Nasdaq 100 ambruk 4,35% menjadi 6.666.

Penurunan bursa saham berjangka Wall Street ini tentunya memberikan dorongan bagi turunnya bursa saham Asia pada perdagangan hari ini, setelah mengalami kehancuran akibat penyebaran wabah COVID-19.

Saham-saham di Asia Pasifik mengalami penurunan signifikan dalam perdagangan Senin pagi karena kekhawatiran dampak ekonomi dari wabah global virus corona terus membebani sentimen investor.

Bursa saham Korea Selatan adalah salah satu yang paling merugi di antara pasar regional utama, dengan Kospi jatuh 6,05% pada di 1.471,32 pada pukul 08:32 WIB.

Di Australia, S & P/ASX 200 turun 7,74% ke 4.443,8 di perdagangan pagi karena sebagian besar sektor jatuh. Sektor keuangan yang sangat berat menukik lebih dari 7%.

Saham-saham yang disebut sebagai bank Big Four di negara itu semuanya mendapat tekanan jual : Australia and New Zealand Banking Group turun 7,49%, Commonwealth Bank of Australia turun 6,68%, Westpac turun 8,81% sementara National Australia Bank tergelincir 8,75%.

Nikkei 225 di Jepang melawan tren yang sempat naik 0,6% di awal perdagangan, namun seiring berjalannya perdagangan Nikkei 225 pada pukul 08:45 WIB juga turun 0,04% ke 16.538, sementara indeks Topix anjlok 1,39% menjadi 1.264,4.

Saham FTSE Straits Times Singapore (STI) turun 6,86% menjadi 2.245, indeks Hang Seng melemah 4,36% pada 21.820, Shanghai Composite Index (SSEC) ambles 2,3% pada 2.682.

Wabah dari virus corona ini semakin membuat para pelaku pasar global khawatir bahwa resesi ekonomi global mungkin terjadi di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi bahkan stagnan, seiring pemberlakuan penutupan wilayah (lockdown) yang membuat roda perekonomian terhenti.


bell

Berlangganan notifikasi

Teruslah terupdate dengan segala perubahan pasar, dapatkan beragam berita dan sinyal trading